Yuk! Patuhi Himbauan Social Distancing. Ini Manfaatnya Secara Psikologis

manfaat social disancing, dampak positif social distancing.

Selain mencegah penularan virus corona, inilah 5 manfaat social distancing secara psikologis

Barco.id– Penyakit COVID-19 yang disebabkan coronavirus jenis baru semakin menjadi-jadi. Menurut data terakhir yang dipublikasikan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, pada hari Jumat, 25 Maret 2020 sudah lebih dari 790 orang yang positif terinfeksi virus Corona di Indonesia.

Ada 31 pasien yang berhasil sembuh, namun 58 di antaranya tak terselamatkan. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang terjangkit virus Corona dengan persentase kematian tertinggi.

Memburuknya wabah virus Corona mengharuskan pemerintah mengambil sikap. Baru-baru ini, presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, memberikan himbauan untuk menerapkan social distancing guna menghadapi pandemi COVID-19. Strategi ini didukung dengan kebijakan work from home (WFH) atau kerja dari rumah (KDR) yang diberlakukan di berbagai daerah, terutama yang sudah memiliki pasien terjangkit.

Hashtag #dirumahaja dijadikan cara mengkampanyekan upaya pemerintah ini. Kegiatan belajar formal dipindahkan ke rumah dengan memanfaatkan berbagai platform belajar online. Pengkondisian ini memaksa kita untuk menjaga jarak dengan orang lain dan lebih banyak menghabiskan waktu di ruang yang lebih terbatas.

Beberapa orang yang mengaku introvert, mungkin dapat menikmati pengkondisian ini. Sementara beberapa lainnya yang merasa ekstrovert mulai merasa jenuh, bosan, dan rindu keramaian.

Social distancing, tampaknya memang mudah dilakukan. Kita hanya perlu duduk manis di rumah.

Namun, kenyataannya, realisasi social distancing bisa jadi lebih berat ketimbang apa yang dibayangkan.

Apalagi bagi mereka yang jadwal kegiatan dan mobilisasinya sangat tinggi. Dengan gampangnya, kebebasan di rumah bisa memunculkan rasa bosan, kesepian, atau bahkan tertekan.

Lantas, adakah manfaat social distancing secara psikologis?

Jawabannya, jelas ada, dong. Tapi, pertama tama, kita perlu kembalikan kepada niat dan cara menikmatinya. Meskipun jarak dan batasan ini adalah himbauan pemerintah, akan lebih baik bila kita memiliki tekad dan dorongan dari dalam dirisendiri saat melakukannya.

Berikut beberapa manfaat social distancing secara psikologis: 

Ambil Alih Hidup

Kita mendapat kesempatan untuk mengambil alih hidup kita kembali. Tidak sedikit dari kita yang menyerahkan skenario hidupnya pada jadwal yang ada.

Entah siapa yang membuatnya, selalu ada jadwal yang mengiringi hari seseorang. Dengan adanya social distancing, kita memiliki sedikit keluangan untuk menyusun skenario kehidupan secara mandiri.

Melalui social distancing, kita tidak lagi terpaku pada jadwal yang rigid. Seseorang dapat mencoba hal-hal baru dan tidak terburu-buru menyelesaikan sesuatu.

Mindful

Kita bisa lebih mindful dalam setiap aktivitas yang dijalani. Jeda dan jarak yang menyertai social distancing memberi peluang pada kita untuk menjalani segala sesuatu dengan penuh kesadaran dan perhatian.

Jika sebelumnya kepadatan tugas dan interaksi mendorong kita untuk mengaktivasi auto pilot mode untuk menghadapi semuanya, kini kita dapat menikmati setiap momen ke momen lainnya.

Contohnya, kita bisa benar benar menikmati alunan musik yang kita dengar, rasa makanan yang kita konsumsi, dan mensyukuri beberapa kemampuan diri yang selama ini kita anggap biasa aja

Menjaga pikiran

Social Distancing identik dengan kondisi solitude (kesendirian). Penelitian yang dilakukan Daphne M. Davis menunjukkan adanya efek deaktivasi perasaan positif dan negatif ketika seseorang berada dalam kesendirian.

Dengan kata lain, kesendirian dapat mengurangi kemungkinan kita merasakan perasaan negatif. Pun demikian terkait perasaan positif.

Tapi jangan khawatir dulu, karena ternyata, perasaan positif tetap dapat terjaga bila kita merawat pikiran positif saat menyendiri.

Rileks dan antistress

Apabila dilakukan atas kemauan sendiri, menyendiri (yang juga bagian dari social distancing) dapat mengarahkan kita pada kondisi rileks dan penurunan stress.

Situasi saat ini yang juga dibumbui dengan berbagai pemberitaan, asumsi publik, dan sebagainya, tentu dapat menjadi tekanan bagi kita. Utamanya, ketika kita sulit memfilter informasi dengan baik.

Adanya jeda untuk menyendiri dapat mempermudah kita untuk melakukan relaksasi dan membatasi sendiri jumlah informasi yang mau diterima hari ini.

Mengurangi kecemasan

Kembali pada tujuan awal yaitu pencegahan, menerapkan social distancing dapat mengurangi tingkat kecemasan akan kemungkinan terpapar virus. Kecemasan yang berlebihan memiliki hubungan yang tidak terputus dengan overthinking (memikirkan sesuatu secara berlebihan).

Salah satu upaya untuk melepas diri dari jeratan lingkaran tidak terputus ini adalah dengan mengecek realita yang dapat membantah pikiran-pikiran negatif tersebut. Dengan melakukan social distancing, kita memiliki realita untuk membantah pikiran dan kecemasan-kecemasan itu.

Source : Oase

Bagikan Ke :

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
Share on pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *